H. Ilyas Ya’kub; Pahlawan Nasional dari Pesisir Selatan

Tugu Ilyas Yakub Painan

Painan, sebuah kota kecil yang berada di pingggir pantai bagian barat Sumatera. Ibukota Kabupaten Pesisir Selatan ini berada di bagian selatan kota Padang dan dapat ditempuh dengan perjalanan darat selama lebih kurang 1,5 jam.

Begitu memasuki kota ini, kita akan melihat sebuah tugu, seorang laki – laki paruh baya seperti sedang berorasi. Layaknya kota – kota di belahan dunia lain, tugu ini menjadi salah satu Landmark Kota Painan. Siapakah beliau?

Beliau adalah H. Ilyas Ya’kub, Seorang ulama dan pejuang kemerdekaan Repulik Indonesia. Beliau diangkat menjadi pahlawan kemerdekaan Republik Indonesia dengan SK-Mensos RI Nomor: Pol-61/PK/1968, tanggal 16 Desember 1968 dan dikukuhkan kembali dengan Keputusan Presiden RI (Kepres-RI) Nomor 074/TK/Tahun 1999 tanggal 13 Agustus 1999 serta dianugerahi tanda kehormatan Bintang Mahaputra Adipradana atas jasanya mempertahankan prinsip-perinsip kemerdekaan dari ancaman kolonialisme Belanda sekaligus menggerakkan kemerdekaan RI.

Perjuangan Ilyas Ya’kub sebagai ulama dan tokoh pendidikan Islam banyak mendirikan lembaga pendidikan Islam. Ia juga pernah bekerja sebagai wartawan di samping berjuang mendirikan lembaga pers sejak masa pendidikan di perguruan tinggi di Timur Tengah. Sebagai politikus Islam yang gemilang, ia berjasa mewadahi Islam dan Kebangsaan dengan parpol PERMI (Persatuan Muslimin Indonesia) yang berbasis pada pendidikan Islam yang ia dirikan bersama teman seperjuangan.

Dengan profesinya sebagai wartawan dan penerbitan pers (pernah sebagai Pemimpin Redaksi Majalah Medan Rakyat, 1 Februari 1931) serta politikus Islam pada masa pergerakan kemerdekaan Indonesia itu, membuatnya tegas dan keras menentang prilaku imperialisme dan kolonialisme Belanda. Sepak terjangnya memperlihatkan karakteristik radikal positif justru mengangkat martabat dan integritas dirinya sebagai tokoh Islam (ulama) dan nasionalis yang kuat menentang penjajah. Aktivitas beliau menarik perhatian Belanda, diperhitungkan sebagai tokoh Islam dan Nasional dan atas kegigihan perjuangannya dinyatakan sebagai musuh bebuyutan. Dengan segala cara Belanda akhirnya menangkapnya dan membuangnya ke Bouven Digul (dulu Irian Jaya, sekarang Papua) selama 10 tahun (1934 – 1944), ke Kali Bian Wantaka,  Australia, Kupang, Timor, Singapura, Sarawak (Malaysia), Brunei Darussalam, sampai kembali ke tanah air bersama isteri dan 6 orang anaknya tahun 1946.

Latar Belakang Keluarga

Putra ketiga dari empat bersaudara dari pasangan suami-isteri Haji Ya’kub – Siti Hajir ini pada masa kecilnya belajar ilmu agama kepada kakeknya Syeikh Abdurrahman. Masa itu Bayang (daerah kelahirannya) masih merupakan sentra pendidikan Islam. Sebab sejak dahulu Bayang termasuk basis pengembangan Islam di Pantai Barat Sumatera. Berpusat di surau tua didirikan awal 1666 oleh Syeikh Buyung Muda Puluikpuluik. Syeikh Buyung Muda merupakan salah seorang dari 6 ulama pengembang Islam di Indonesia seangkatan Syeikh Burhanuddin Ulakan Pariaman, yang sama – sama belajar pada Syeikh Abdul Rauf Singkil di Aceh. Saat berkobarnya Perang Pauh (mulai 28 April 1666) surau ini juga menjadi basis perjuangan melawan Belanda.

Bayang sejak lama menjadi basis konsentrasi perjuangan rakyat Sumatera Barat melawan Belanda, tercatat perang Bayang berlangsung lebih satu abad (mulai 7 Juni 1663, berakhir dengan Perjanjian Bayang 1771). Sejak itu Bayang melahirkan banyak ulama besar dan pejuang kemerdekaan dan Islam di pentas sejarah nasional, di antaranya Syeikh Muhammad Fatawi, Syeikh Muhammad Jamil (tamatan Makkah 1876), Syeikh Muhammad Shamad (wafat di Makkah tahun 1876), Syeikh Bayang (Syeikh Muhammad Dalil bin Muhammad Fatawi (1864 – 1923) penulis buku taraghub il rahmatillah yang oleh BJO Schrieke disebut sebagai kepustakaan pejuang abad ke-20 yang penuh moral, juga Syeikh Abdurrahman (kakek Ilyas Ya’cub), Syeikh Abdul Wahab (Inyiak Kacuang) dll.

Ayah Ilyas Ya’kub seorang pedagang kain dan hidup di lingkungan ulama, cukup memberi peluang dana dan motivasi bagi Ilyas Ya’kub untuk mengecap pendidikan lebih baik. Pertama ia mendapat pendidikan di Gouvernements Inlandsche School. Tamat sekolah ia bekerja sebagai juru tulis selama dua tahun (1917 – 1919) di perusahaan tambang batu bara Ombilin Sawahlunto Sijunjung. Ia keluar dari perusahaan itu sebagai protes terhadap pimpinan perusahaan asing yang imperialisme dan kolonialisme yang kasar terhadap kaum buruh pribumi.

Sebagai kompensasi Ilyas Ya’kub memperdalam ilmu agama ke Syekh Haji Abdul Wahab. Gurunya (juga ayah dari isterinya Tinur) ini melihat Ilyas Ya’kub berbakat, lalu dibawa ke Mekah. Ketika berada di tanah suci itu, selesai menunaikan ibadah haji, Ilyas berminat untuk menetap di sana guna memperdalam ilmu agamanya. Tahun 1923 ia punya kesempatan ke Mesir. Di sana ia memasuki sebuah universitas mulanya sebagai thalib mustami’ (mahasiswa pendengar).

 

Perjuangan

Selama di Mesir, Haji Ilyas Ya’kub aktif dalam berbagai organisasi dan partai politik di antaranya Hizb al-Wathan (partai tanah air) didirikan oleh Mustafa Kamal. Disini semangat anti penjajah tumbuh dan berkembang. Selama di Mesir, bakat keorganisasiannya terasah dengan baik. Beliau menjabat sebagai ketua Perkumpulan Mahasiswa Indonesia dan Malaysia (PMIM)  Mesir. Selain itu ia juga fungsionaris wakil ketua organisasi sosial politik Jam’iyat al-Khairiyah dan ketua organisasi politik Difa` al-Wathan (Ketahanan Tanah Air).

Selain akif di gerakan politik, selama di Mesir, Haji Ilyas Ya’kub juga aktif menulis artikel dan dipublikasi pada berbagai Surat Kabar Harian di Kairo. Bersama temannya Muchtar Luthfi ia mendirikan dan memimpin Majalah Seruan Al-Azhar dan majalah Pilihan Timur. Majalah Seruan Al-Azhar adalah majalah bulanan mahasiswa sedangkan majalah Pilihan Timur adalah majalah politik. Kedua produk jusnalistik ini banyak dibaca mahasiswa Indonesia – Malaysia di Mesir ketika itu.

Gerakan Haji Ilyas Ya’kub dalam jurnalistik dan politik anti penjajah di Mesir, tercium oleh Belanda ketika itu. Melalui perwakilannya di Mesir, Belanda mencoba melunakkan sikap radikal Ilyas Ya’kub, tetapi gagal. Sejak itu Belanda semakin menggaris merah gerakan Ilyas Ya’kub, tidak saja sebagai radikalis bahkan dicap sebagai ekstrimis dan musuhnya di Indonesia.

Tahun 1929 Haji Ilyas Ya’kub kembali ke tanah air. Namun perjalanannya tidak mulus. Belanda memaksanya transit di Singapura kemudian nyasar berlabuh di Jambi.

Sesampai di tanah air, Ilyas Ya’kub segera bergerak. Membangun komunikasi dengan teman – teman seperjuangan, baik yang akif di PNI maupun Partai Syarikat Islam. Baginya Islam dan kebangsaan bukanlah bertentangan namun harus dikombinasikan sebagai landasan dasar perjuangan. Wujud dari gagasan ini adalah diterbitkanya Tabloid Medan Rakyat dan bersama temannya Mukhtar Luthfi mendirikan wadah perjuangan baru bernama PERMI (Persatuan Muslimin Indonesia) dengan asas Islam dan kebangsaan, pada tahun 1930. Tujuannya menegakan Islam dan memperkuat wawasan kebangsaan untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Dengan dasar Islam dan kebangsaan ini, PERMI menjalankan sikap politik non kooperasi dan tak kenal kompromi dengan bangsa apapun yang kental punya prilaku imperialisme dan kolonialisme. Karena itu pula PERMI secara prinsipil mencap bahwa kapitalisme dan imperalisme merupakan penyebab penderitaan rakyat Indonesia.

Menurut Audrey Kahin, penggunaan ideologi Islam dan Kebangsaan oleh PERMI merupakan pengaruh kuat pemikiran Ilyas Ya’kub dan Mukhtar Lutfi yang baru saja kembali dari Mesir. Gagasan ini dipengaruhi oleh Islam Nasionalis Rasyid Ridho. Sementara menurut Deliar Noer pengalaman-pengalaman tokoh Permi (Ilyas Yakub dan Mukhtar Lutfi) di Mekkah, serta pengamatan-pengamatan mereka tentang pertentangan antara Sarekat Islam dengan Partai Nasional Indonesia (PNI) di Jawa mengenai masalah agama dan kebangsaan, menyebabkan tumbuhnya pemikiran tentang suatu partai politik yang didasari atas asas Islam dan Kebangsaan. Hubungan yang erat antara Permi dan PNI bentukan Soekarno di Jawa, karena memiliki kesamaan ideologi yaitu tentang kebangsaan. Hal ini kemudian diperkuat dengan kontak pribadi antara tokoh-tokoh Permi seperti Ilyas Yakub, Mukhtar Lutfi dan Djalaluddin Thaib dengan PNI saat pergi ke Jawa.

Tahun 1932 Permi mengadakan konsolidasi. Partai ini menyadari perjuangan Islam dan Kebangsaan perlu dikukuhkan baik internal maupun eksternal. Konsolidasi PMI merupakan bagian kesadaran bagi penguatan lembaga ke-Islaman menunjang visi Islam dan kebangsaan Indonesia. Konsolidasi dilakukan dalam bentuk Kongres Besar bertempat di dekat daerah kelahiran Ilyas Ya’kub yakni Koto Marapak (Bayang Pesisir Selatan) dihadiri oleh seluruh pengurus cabang se Sumatera seperti dari Tapanuli Selatan, Bengkulu, Palembang, Lampung dll. Saat itu Pemi telah tumbuh menjadi Partai yan epenaruh di Sumatera dengan jumlah anggota yang tercatat ketika itu sudah lebih dari 10.000 orang.

Karena dianggap membahayakan pemerintahan, maka berdasarkan vergarder verbod Belanda mengeluarkan kebijakan exorbita terechten yang menyatakan PERMI terlarang dan diikuti tindakan penangkapan terhadap tokoh-tokohnya. Haji Ilyas Ya’kub bersama dua temannya Mukhtar Luthfi dan Janan Thaib ditangkap dan dipenjarakan. Setelah 9 bulan di penjara Muaro Padang, ia diasingkan selama 10 tahun (1934-1944) ke Bouven Digul Irian Jaya bersama para pejuang pergerakan kemerdekaan Indonesia lainnya. Selama di Digul Haji Ilyas Ya’kub didampingi isteri Tinur sering sakit-sakitan. Masa awal penjajahan Jepang di Indonesia pun, para tahanan Digul semakin memprihatinkan, mereka dipindahkan lagi ke daerah pedalaman Irian Jaya di Kali Bina Wantaka kemudian diasingkan pula ke Australia. Ia senantiasa dibujuk van der Plas dan van Mook (Belanda), namun semangat nasionalis dan Islamnya tidak pernah pudar memotivasi pembangkangannya dalam menentang penjajah dan menggerakkan terwujudnya kemerdekaan Indonesia.

Oktober 1945 pemulangan para tahanan perang dari Australia ke Indonesia dengan kapal Experence Bey, Haji Ilyas Ya’kub tidak diizinkan turun di pelabuhan Tanjung Periuk, bahkan ia kembali ditahan dan diasingkan bersama isteri selama 9 bulan berpindah-pindah di Kupang, Serawak, Brunei Darussalam, kemudian ke Labuhan, Singapura (anaknya iqbal meninggal di sana). Satu tahun Indonesia merdeka (1946) barulah habis masa tahanannya dan kembali bergabung dengan kaum republik sekembali dari Cirebon. Ia ikut bergerillya dan ikut membentuk PDRI (Pemerintahan Darurat Republik Indonesia) yang kemudian dipimpin oleh Mr. Safruddin Prawiranegara. Ia mendapat tugas menghimpun kekuatan politik (seluruh partai) di Sumatera untuk melawan agresor Belanda. Tahun itu ia menjabat ketua DPR Sumatera Tengah kemudian terpilih lagi sebagai anggota DPRD wakil Masyumi dan merangkap sebagai penasihat Gubernur Sumatera Tengah bidang politik dan agama.

Wafat

Sebenarnya banyak perjuangan Ilyas Ya’kub yang tidak tercatat, mulai sejak masa awal ia bekerja di Perusahaan Asing (Belanda) yakni Tambang Batubara di Sawah Lunto, masa pendidikan di Mesir pasca Mekah (8 tahun), masa bergerak di PERMI diperkuat tabloid Medan Rakyat serta hubungannya dengan tokoh politik, masa konsolidasi ideologi gerakan Islam dan Kebangsaan mewujudkan kemerdekaan Indonesia yang berisiko tinggi pada dirinya masuk penjara keluar penjara penjajah dari satu daerah pengasingan ke daerah pengasingan lainnya di dalam/ luar negeri (13 tahun), sampai ia mengabdi kepada Republik bekerja di badan legislatif. Namun ia telah memenuhi ajakan ‘isy karima wa mut syahida’ (hidup sebagai orang mulia dan wafat meninggalkan jasa) adalah jasa kepada Islam dan kebangsaan, turut memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia.

  1. Ilyas Ya’kub menghembuskan nafas terakhir pada hari Sabtu, 2 Agustus 1958 jam 18.00 wib. Meninggalkan 11 orang anak, antara lain putranya Anis Sayadi, Fauzi (satu di antaranya yang menulis riwayat hidup singkat tokoh ini) dll. Kesaksian kebesaran perjuangannya dikukuhkan sebagai pahlawan perintis kemerdekaan RI dengan SK Mensos No. Pol-61/PK/1968, 16 Desember 1968, mendapat piagam penghargaan sebagai pejuang kemerdekaan Republik Indonesia sejak 17 Agustus 1975. Kepahlawanannya dikukuhkan kembali dengan Keputusan Presiden RI (Kepres-RI) Nomor 074/TK/Tahun 1999 tanggal 13 Agustus 1999 serta dianugerahi tanda kehormatan Bintang Mahaputra Adipradana atas jasanya mempertahankan prinsip-perinsip kemerdekaan dari ancaman kolonialisme Belanda sekaligus menggerakkan kemerdekaan RI di samping memperjuang Partai dan Pendidikan Islam.

Kepahlawanan Ilyas Ya’kub juga diabadikan dengan pemberian namanya untuk gedung olahraga dan jalan di kota Painan, Pesisir Selatan, Sumatera Barat (Indonesia). Pada awalnya beliau dimakamkan di depan Mesjid Raya Al-Munawarah Koto Barapak, Bayang, Pesisir Selatan, sekarang dipindahkan ke lokasi yang tidak jauh dari situ, sebuah komplek makam Pahlawan Nasional, sebuah penghargaan Negara untuk pahlawannya yang sudah mendharmabaktikan seluruh hidupnya untuk kemerdekaan Republik Indonesia.

(DHY, diolah dari berbagai sumber)